“Jangan mengangkat al-Barra’ sebagai panglima tentara kaum muslimin,
karena dikhawatirkan dia akan mencelakakan bala tentaranya karena
keberaniannya.” (Umar bin al-Khatthab)
Seorang laki-laki dengan rambut kusut, badan berdebu, berperawakan
kurus, tulang tubuhnya berbalur daging tipis, mata para pemandangnya
melihat kepadanya dengan sulit, kemudian langsung berpaling darinya.
Sekalipun demikian, laki-laki ini pernah membunuh seratus orang
musyrik sendirian duel di medan laga satu lawan satu, jumlah ini belum
termasuk orang-orang yang dia habisi di medan perang.
Dia adalah laki-laki pemberani, bernyali besar dan bertekad baja, di
mana al-Faruq menulis kepada para gubernurnya di seluruh wilayah
kekuasaannya, “Jangan menyerahkan pasukan kaum muslimin kepadanya, aku
khawatir dia akan mencelakakan mereka karena keberaniannya.”
Dia adalah al-Barra’ bin Malik al-Anshari, saudara Anas bin Malik, pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Kalau aku menyebutkan berita-berita kepahlawanan al-Barra’ bin Malik
niscaya pembicaraan menjadi panjang dan kesempatan menjadi sempit, oleh
karena itu aku memilih untuk menurunkan satu kisah dari kisah-kisah
kepahlawananya. Satu kisah yang mengabarkan kisah-kisah yang lain kepada
Anda.
Kisah ini berawal sejak saat-saat pertama dari wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
yang mulia dan kepergian beliau menghadap Rabbnya, di mana
kabilah-kabilah Arab mulai keluar berbondong-bondong meninggalkan agama
Allah setelah sebelumnya mereka masuk berbondong-bondong ke dalamnya.
Mereka yang tetap teguh di atas Islam hanyalah orang-orang Mekah,
Madinah, Thaif, dan beberapa kabilah yang tersebar di sana-sini dari
kalangan orang-orang yang Allah teguhkan hatinya di atas Islam.
Ash-Shiddiq tetap tegak menghadapi fitnah yang merusak ini layaknya
gunung yang berdiri kokoh, dia menyiapkan sebelas pasukan dari
orang-orang Muhajirin dan Anshar, dia mengibarkan sebelas panji komando
untuk memimpin pasukan tersebut, lalu dia mengirimkan semuanya ke segala
penjuru Jazirah Arabia untuk mengembalikan orang-orang murtad ke jalan
petunjuk dan kebenaran, untuk membawa orang-orang yang menyimpang dari
jalan yang benar dengan tajamnya pedang.
Orang-orang murtad yang paling besar kekuatannya, paling banyak
anggotanya adalah Bani Hanifah, para pengikutnya Musailamah al-Kadzdzab.
Musailamah didukung oleh empat puluh ribu orang dari kabilahnya dan para sekutunya, mereka termasuk para petarung yang tangguh.
Kebanyakan dari pengikutnya adalah orang-orang yang mengikutinya
karena fanatisme kesukuan bukan karena beriman atau percaya kepadanya,
sebagian dari mereka berkata, “Aku bersaksi bahwa Musailamah adalah
pembual besar dan Muhammad adalah orang yang benar, namun pembual (dari
kabilah) Rabi’ah[1] lebih kami cintai daripada orang yang jujur dari
(kabilah) Mudhar.”[2]
Musailamah mengalahkan pasukan kaum muslimin yang keluar memerangi
mereka dengan kepemimpinan Ikrimah bin Abu Jahal, Musailamah berhasil
memukul mundur tentara Islam itu.
Maka ash-Shiddiq mengirim pasukan kedua dengan dipimpin oleh Khalid
bin al-Walid yang beranggotakan para shahabat besar dari kalangan
orang-orang Muhajirin dan Anshar, di barisan depan pasukan ini adalah
al-Barra’ bin Malik al-Anshari dan beberapa pahlawan pemberani kaum
muslimin.
Dua pasukan bertemu di bumi Yamamah di Nejed, perang belum
berlangsung lama, tetapi sudah terlihat keunggulan pasukan Musailamah,
bumi yang diinjak oleh pasukan kaum muslimin mulai bergoncang, mereka
mulai melangkah mundur sehingga pasukan Musailamah mampu menerobos
markas panglima Khalid bin al-Walid dan membongkar tiang-tiangnya dan
hampir saja membunuh istrinya kalau tidak ada seorang muslim yang
menyelamatkannya.
Pada saat itu kaum muslimin merasakan sebuah bahaya yang sangat
besar, mereka menyadari bahwa jika mereka kalah di depan Musailamah
niscaya Islam tidak akan pernah berdiri tegak setelah hari itu, Allah
yang tiada sekutu bagi-Nya tidak akan pernah lagi disembah di bumi
Jazirah Arab.
Khalid maju menghampiri pasukannya, dia mulai menata ulang,
memisahkan orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, dia juga
memisahkan orang-orang pedalaman dari pasukan-pasukan yang lain.
Khalid mengumpulkan anak dengan bapaknya di bawah panji salah seorang
dari (suku) mereka, agar masing-masing dari mereka menunjukkan
kepahlawanannya di medan perang, agar diketahui di mana titik kelemahan
kaum muslimin.
Genderang perang kembali di tabuh di antara kedua kubu, yang memakan
korban besar, kaum muslimin belum pernah mengenal perang sedahsyat itu
dalam sejarah mereka sebelumnya, pasukan Musailamah berperang dengan
teguh di medan perang layaknya gunung yang tegak menjulang tinggi,
mereka tidak terpengaruh oleh banyaknya jumlah korban yang berjatuhan.
Kaum muslimin memperlihatkan kepahlawanan mereka yang sangat
mengagumkan, seandainya ia disusun menjadi satu niscaya akan menjadi
sebuah kisah kepahlawanan yang tergolong sangat mencengangkan.
Tsabit bin Qais, pembawa panji orang-orang Anshar, mengambil kain
kafannya, membuat galian di tanah sedalam setengah betis, lalu dia masuk
ke dalam, dia tetap berdiri teguh di tempatnya, berperang membela panji
kaumnya sampai dia tersungkur sebagai seorang syahid.
Zahid bin al-Khatthab saudara Umar bin al-Khatthab, memanggil kaum
muslimin, “Wahai pasukan Islam, gigitlah gigi geraham kalian, tebaslah
musuh kalian dan majulah tanpa mengenal rasa takut. Wahai tentara Allah,
demi Allah, aku tidak akan berbicara setelah kalimatku ini
selama-lamanya sampai Musailamah dikalahkan atau aku mati untuk bertemu
Allah, lalu aku akan menyampaikan alasanku kepada-Nya.”
Kemudian dia maju berperang melawan musuh sampai dia gugur sebagai syahid.
Salim mantan hamba sahaya Abu Hudzaifah, pembawa panji orang-orang
Muhajirin. Kaumnya khawatir dia akan goyah sehingga tidak kuat memegang
panji, maka mereka berakata kepadanya, “Kami takut diserang melalui
dirimu.” Maka dia menjawab, “Jika kalian sampai kalah karena aku, maka
aku akan seburuk-buruk penghafal Alquran.”
Kemudian dia maju untuk melawan musuh dengan gagah berani sampai dia gugur syahid.
Puncak kepahlawanan mereka semuanya tampak pada kepahlawanan al-Barra’ bin Malik.
Khalid melihat bahwa peperangan semakin sengit dan mencapai
puncaknya, pada saat itu Khalid menoleh al-Barra’ dan berkata, “Majulah
wahai pemuda Anshar.”
Maka al-Barra’ melihat kepada kaumnya dan berkata, “Wahai orang-orang
Anshar, jangan ada salah seorang dari kalian yang berpikir untuk pulang
ke Madinah, tidak ada Madinah bagi kalian setelah hari ini. Yang ada
hanyalah Allah semata dan mati syahid.”
Kemudian dia melangkah maju menyerang orang-orang musyrik dan kaumnya
mengikutinya, dia menerjang membelah barisan musuh, menebaskan
pedangnya ke leher musuh-musuh Allah sehingga bumi yang dipijak oleh
Musailamah dengan pasukannya bergoncang, maka mereka pun mundur
berlindung ke dalam benteng yang kemudian dikenal setelah itu dalam
sejarah dengan benteng kematian karena banyaknya korban yang terbunuh di
dalamnya.
Benteng kematian ini sangat luas, dindingnya tinggi, Musailamah
dengan ribuan pendukungnya masuk dan mengunci pintu benteng dari dalam,
mereka melindungi diri mereka dengan ketinggian bentengnya, selanjutnya
mereka menghujani kaum muslimin dengan anak panah dari dalam benteng,
maka anak panah turun kepada kaum muslimin layaknya hujan yang turun
dari langit.
Pada saat itulah pahlawan kaum muslimin yang pemberani al-Barra’ bin
Malik melangkah ke depan, dia berkata, “Wahai kaum muslimin, letakkan
aku di sebuah tameng, angkatlah tameng itu di ujung tombak, kemudian
lemparkan aku ke dalam benteng dekat pintu gerbangnya, kalau aku tidak
gugur maka aku akan membuka gerbangnya untuk kalian.”
Dalam sekejap al-Barra’ sudah duduk di sebuah tameng, berbadan kurus
dan kerempeng, puluhan tombak mengangkatnya dan melemparkannya ke dalam
benteng kematian di antara ribuan tentara Musailamah, maka al-Barra’
turun di antara mereka layaknya sebuah halilintar, al-Barra’ melawan
mereka sendirian di dekat gerbang benteng, menebaskan pedangnya sehingga
dia berhasil menyudahi perlawanan sepuluh orang dari mereka dan membuka
benteng sekalipun dia harus menerima delapan puluh lebih luka di
tubuhnya berupa tusukan anak panah atau tebasan pedang.
Maka kaum muslimin berhamburan masuk ke dalam benteng kematian, dari
dinding-dindingnya dan pintu-pintunya, mereka menebaskan pedang-pedang
mereka ke leher orang-orang yang murtad yang berlindung di dalam
benteng, kaum muslimin bisa membunuh sekitar dua puluh ribu orang dari
mereka, kaum muslimin sampai kepada Musailamah dan mengirimnya ke pintu
kematian.
Al-Barra’ dibawa ke tendanya untuk diobati, Khalid bin al-Walid
menyempatkan diri untuk tinggal selama satu bulan di bumi Yamamah dalam
rangka mengobati luka-lukanya sehingga Allah memberinya kesembuhan dan
menetapkan kemenangan bagi kaum muslimin melalui kedua tangannya.
Al-Barra’ terus mencari syahadah yang menjauhinya di perang Yamamah,
dia terus menerjuni perang demi perang, dia sangat inign mewujudkan
impian besarnya, rindu ingin bertemu dengan Nabi yang Mulia.
Tibalah saat penaklukan kota Tustar[3] di negari Persia. Orang-orang
Persia bersembunyi di salah satu bentengnya yang sangat tinggi, maka
kaum muslimin mengepung mereka dari segala penjuru seperti gelang
mengelilingi pergelangan tangan, pengepungan berlangsung lama,
orang-orang Persia merasakan beratnya pengepungan, maka mereka mulai
mengulurkan rantai-rantai besi dari atas dinding benteng, padanya
tergantung kait-kait yang telah dibakar dengan api sehingga keadaannya
lebih panas daripada bara, kait-kait panas ini menyambar kaum muslimin
dan menjepit mereka, yang terjepit akan terangkat ke atas, selanjutnya
dia akan mati atau mendekat kematian.
Salah satu pengait besi itu menyambar Anas bin Malik sudara al-Barra’
bin Malik, al-Barra’ langsung memanjat dinding benteng, memegang rantai
besi yang menyambar saudaranya, dia melawan kait dan berusaha untuk
melepaskan saudaranya darinya, tangan al-Barra’ terbakar dan
mengeluarkan asap, namun dia tidak memperdulikannya sehingga dia
berhasil menyelamatkan saudaranya, al-Barra’ turun ke bumi setelah
tangannya hanya tinggal tulang tanpa daging.
Dalam perang ini al-Barra’ bin Malik al-Anshari berdoa kepada-Nya
agar melimpahkan syahadah kepadanya, maka Allah mengabulkan doanya di
mana dia gugur sebagai syahid yang bangga bisa bertemu Allah.
Semoga Allah menjadikan wajah al-Barra’ bin Malik berseri-seri di
dalam surga, membuatnya tenang karena bisa menyusul Nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam semoga Allah meridhainya dan menjadikannya ridha.
By : Solehudin
Jumat, 26 Oktober 2012
Umar Tidak Tahu, Tetapi Rabb-nya Pasti Tahu
Kisah yang disebutkan dalam sirah ‘Umar bin ‘Abdil-’Azis (Juz 1, hlm 23). Yaitu kisah Amirul-Mukminin ‘Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu dengan seorang wanita. Tatkala Khalifah ‘Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu memegang tampuk pemerintahan, beliau melarang mencampur susu dengan air.
Awal kisah, pada suatu malam Khalifah ‘Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu pergi ke daerah pinggiran kota Madinah. Untuk istirahat sejenak, bersandarlah beliau di tembok salah satu rumah. Terdengarlah oleh beliau suara seorang perempuan yang memerintahkan anak perempuannya untuk mencampur susu dengan air. Tetapi anak perempuan yang diperintahkan tersebut menolak dan berkata: “Bagaimana aku hendak mencampurkannya, sedangkan Khalifah ‘Umar melarangnya?”
Mendengar jawaban anak perempuannya, maka sang ibu menimpalinya: “Umar tidak akan mengetahui.”
Mendengar ucapan tersebut, maka anaknya menjawab lagi: “Kalaupun ‘Umar tidak mengetahui, tetapi Rabb-nya pasti mengetahui. Aku tidak akan pernah mau melakukannya. Dia telah melarangnya.”
Kata-kata anak wanita tersebut telah menghunjam ke dalam hati ‘Umar. Sehingga pada pagi harinya, anaknya yang bernama ‘Ashim, beliau panggil untuk pergi ke rumah wanita tersebut. Diceritakanlah ciri-ciri anak tersebut dan tempat tinggalnya, dan beliau berkata: “Pergilah, wahai anakku dan nikahilah anak tersebut,” maka menikahlah ‘Ashim dengan wanita tersebut, dan lahirlah seorang anak perempuan, yang darinya kelak akan lahir Khalifah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz.
Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah tersebut ialah sebagai berikut:
- Kesungguhan salaf dalam mendidik anak-anak mereka.
- Selalu menanamkan sifat muraqabah, yaitu selalu merasa diawasi oleh Allah ‘Azza wa Jalla, baik ketika sendiri atau ketika bersama orang lain.
- Tidak meresa segan untuk memberikan nasihat kepada orang tua.
- Memilihkan suami yang shalih atau istri yang shalihah bagi anak-anaknya.
Penggalan kisah ini hanya sekadar contoh, bagaimana cara kita mengambil pelajaran berharga dari sebuah kisah, kemudian menanamkannya pada anak-anak kita, dan masih banyak contoh lainnya, baik di dalam Al-Qur`an maupun Al-Hadits yang bisa digali dan jadikan sebagai kisah-kisah yang layak dituturkan kepada anak-anak kita.
By : Solehudin
Awal kisah, pada suatu malam Khalifah ‘Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu pergi ke daerah pinggiran kota Madinah. Untuk istirahat sejenak, bersandarlah beliau di tembok salah satu rumah. Terdengarlah oleh beliau suara seorang perempuan yang memerintahkan anak perempuannya untuk mencampur susu dengan air. Tetapi anak perempuan yang diperintahkan tersebut menolak dan berkata: “Bagaimana aku hendak mencampurkannya, sedangkan Khalifah ‘Umar melarangnya?”
Mendengar jawaban anak perempuannya, maka sang ibu menimpalinya: “Umar tidak akan mengetahui.”
Mendengar ucapan tersebut, maka anaknya menjawab lagi: “Kalaupun ‘Umar tidak mengetahui, tetapi Rabb-nya pasti mengetahui. Aku tidak akan pernah mau melakukannya. Dia telah melarangnya.”
Kata-kata anak wanita tersebut telah menghunjam ke dalam hati ‘Umar. Sehingga pada pagi harinya, anaknya yang bernama ‘Ashim, beliau panggil untuk pergi ke rumah wanita tersebut. Diceritakanlah ciri-ciri anak tersebut dan tempat tinggalnya, dan beliau berkata: “Pergilah, wahai anakku dan nikahilah anak tersebut,” maka menikahlah ‘Ashim dengan wanita tersebut, dan lahirlah seorang anak perempuan, yang darinya kelak akan lahir Khalifah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz.
Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah tersebut ialah sebagai berikut:
- Kesungguhan salaf dalam mendidik anak-anak mereka.
- Selalu menanamkan sifat muraqabah, yaitu selalu merasa diawasi oleh Allah ‘Azza wa Jalla, baik ketika sendiri atau ketika bersama orang lain.
- Tidak meresa segan untuk memberikan nasihat kepada orang tua.
- Memilihkan suami yang shalih atau istri yang shalihah bagi anak-anaknya.
Penggalan kisah ini hanya sekadar contoh, bagaimana cara kita mengambil pelajaran berharga dari sebuah kisah, kemudian menanamkannya pada anak-anak kita, dan masih banyak contoh lainnya, baik di dalam Al-Qur`an maupun Al-Hadits yang bisa digali dan jadikan sebagai kisah-kisah yang layak dituturkan kepada anak-anak kita.
By : Solehudin
Orang yang Lebih Bodoh dari Keledai
قال
ابن القيم رحمه الله : من هداية الحمار -الذي هو ابلد الحيوانات – أن
الرجل يسير به ويأتي به الى منزله من البعد في ليلة مظلمة فيعرف المنزل
فإذا خلى جاء اليه ، ويفرق بين الصوت الذي يستوقف به والصوت الذي يحث به
على السير فمن لم يعرف الطريق الى منزله – وهو الجنـــة – فهو أبلد من
الحمار
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Salah satu kelebihan keledai
–padahal ia adalah hewan paling pandir- bahwasanya seseorang berjalan
membawanya kerumahnya dari tempat yang jauh dalam kegelapan malam, maka keledai itu bisa mengenal rumah tersebut. Apabila
dilepaskan (dalam kegelapan) dia bisa pulang kerumah tersebut, serta
mampu membedakan antara suara yang memerintahkannya berhenti dan yang
memerintahkan berjalan. Maka barangsiapa yang tidak mengenal jalan
kerumahnya –yaitu surga– dia lebih pandir dari pada keledai.” (Syifaul ‘Aliil: 1/74)By : Solehudin
POTRET KECINTAAN PARA SAHABAT KEPADA RASULULLAH
- Seorang shahabiyah (sahabat wanita) mulia, yang bapaknya, saudaranya dan suaminya terbunuh di Perang Uhud tatkala dikabari berita duka tersebut justru ia malah bertanya bagaimana keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dikatakan kepadanya, “Beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) baik-baik saja seperti yang engkau harapkan.” Dia menjawab, “Biarkan aku melihatnya.” Tatkala ia melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dia mengatakan, “Sungguh semua musibah terasa ringan wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali bila hal itu menimpamu.” (Sirah Nabawiyyah Libni Hisyam, 2:99).
- Seorang sahabat mulia yang keluarganya adalah Quraisy, ia ditangkap oleh Quraisy untuk dibunuh, maka berkata Abu Sufyan berkata kepadanya, “Wahai Zaid, semoga Allah menguatkanmu, apakah engkau senang bila Muhammad menggantikan posisimu sekarang untuk dipenggal kepalanya sedang engkau duduk manis bersama keluargamu..?!! Maka spontan Zaid menjawab, “Demi Allah, sungguh tidakkah aku senang bila Muhammad sekarang tertusuk duri di tempatnya, sedang aku bersenang-senang bersama keluargaku.” Abu Sufyan pun mengatakan, “Saya tidak melihat seorang pun yang kecintaannya melebihi kecintaan sahabat-sahabat Muhammad kepada Muhammad.” (Sirah Nabawiyyah Libni Hisyam, 3:160).
- Abu Thalhah radhiallahu’anhu pada waktu Perang Uhud, beliau membabi buta melemparkan panah-panah ke arah musuh hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat ada sedikit rasa iba kepada musuh. Maka Abu Thalhah radhiallahu’anhu, “Demi bapak dan ibuku yang jadi tebusanmu, wahai Rasulullah, jangan engkau merasa iba dengan mereka, karena panah-panah mereka telah melukai dan menusukmu, sesungguhnya leherku jadi tameng lehermu.” (HR. Bukhari, no.3600 dan Muslim, no.1811).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُّهِينًا
“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya.
Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya
siksa yang menghinakan.” (QS. al-Ahzab: 57).Orang-orang yang menyakiti para sahabat berarti mereka telah menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan siapa saja yang menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti telah menyakiti Allah Subhanahu wa Ta’ala dan siapa pun yang menyakiti Allah Subhanahu wa Ta’ala maka dia adalah orang yang melakukan perbuatan dosa yang paling besar bahkan bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jangan kalian mencela sahabatku, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud maka tidaklah menyamai 1 mud mereka atau setengahnya.” (HR. Bukhari, no.3470 dan Muslim, no.2540).
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
“Barang siapa mencela sahabatku, atasnya laknat Allah Subhanahu wa Ta’ala, para malaikat dan manusia seluruhnya.” (HR. Thabarani dalam Mu’jamul Kabi, 12:142 dihasankan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ahadis Ash-Shahihah, no.2340).
Masih banyak lagi dalil-dalil yang menunjukkan kemuliaan para sahabat dan haramnya mencela apalagi mencaci para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan kewajiban kita adalah memuliakan mereka karena mereka telah memuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Inilah manhaj (metode) yang ditempuh oleh ahlus sunnah wal jama’ah. Siapa saja yang menyimpang dari metode ini berarti mereka adalah orang-orang yang tersesat dari jalan yang benar.
Al-Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Termasuk hujjah (argumentasi) yang jelas adalah menyebut kebaikan-kebaikan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seluruhnya, dan menahan lisan dari membicarakan keburukan mereka dan perselisihan yang terjadi di antara mereka. Siapa saja yang mencela para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau salah satu di antara mereka, mencacat dan mencela mereka, membongkar aib mereka atau salah satu dari mereka maka dia adalah mubtadi (bukanlah ahlussunnah), rafidhi (Syi’ah) yang berpemikiran menyimpang. Mencintai para sahabat adalah sunah, mendoakan kebaikan untuk mereka adalah amalan ketaatan, meneladani mereka adalah perantara (ridha-Nya), mengikuti jejak mereka adalah kemuliaan. Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia terbaik, tidak dibenarkan bagi seorang pun menyebut-menyebut kejelekan mereka, tidak pula mencacat atau mencela dan membicarakan aib salah satu di antara mereka.” Wallahu a’lam.
By : Solehudin
PERINTAH MENELADANI PARA SAHABAT
Banyak sekali dalil-dalil dari Alquran maupun sunah yang memerintahkan kita untuk meneladani para sahabat, di antaranya:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
Dan dalam hadis:
Dari Abu Burdah dari bapaknya ia berkata: “Selepas kami shalat maghrib bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kami katakan, ‘Bagaimana bila kita tetap duduk di masjid dan menunggu shalat isya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Maka kami pun tetap duduk, hingga keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk shalat isya. Beliau mengatakan, ‘Kalian masih tetap di sini?’ Kami katakan, ‘Wahai Rasulullah kami telah melakukan shalat maghrib bersamamu lalu kami katakan, alangkah baiknya bila kami tetap duduk di sini menunggu shalat isya bersamamu.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Kalian benar.’ Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepala ke langit lalu berkata, ‘Bintang-gemintang itu adalah para penjaga langit, apabila bintang itu lenyap maka terjadilah pada langit itu apa yang telah dijanjikan, aku adalah penjaga para sahabatku, bila aku tiada maka akan menimpa mereka apa yang telah dijanjikan, dan para sahabatku adalah para penjaga umatku, apabila para sahabatku telah tiada maka akan menimpa umatku apa yang telah dijanjikan.’”(HR. Muslim 7:183).
Al-Imam An-Nawawi mengatakan, “Makna hadis di atas adalah selama bintang itu masih ada maka langit pun akan tetap ada, apabila bintang-bintang itu runtuh dan bertebaran pada hari kiamat kelak maka langit pun akan melemah dan akan terbelah dan lenyap. Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aku adalah penjaga para sahabatku, bila aku tiada maka akan menimpa mereka apa yang telah dijanjikan’, yaitu akan terjadi fitnah, pertempuran, perselisihan, dan pemurtadan. Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Para sahabatku adalah para penjaga umatku, apabila para sahabatku telah tiada maka akan menimpa umatku apa yang telah dijanjikan’, maknanya akan terjadi kebid’ahan dan perkara-perkara baru dalam agama dan juga fitnah…” (Syarh Shahih Muslim, 16:83).
By : Solehudin
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُ
الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَاتَوَلَّى
وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran
baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami
biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan
Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk
tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115).Dan dalam hadis:
Dari Abu Burdah dari bapaknya ia berkata: “Selepas kami shalat maghrib bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kami katakan, ‘Bagaimana bila kita tetap duduk di masjid dan menunggu shalat isya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Maka kami pun tetap duduk, hingga keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk shalat isya. Beliau mengatakan, ‘Kalian masih tetap di sini?’ Kami katakan, ‘Wahai Rasulullah kami telah melakukan shalat maghrib bersamamu lalu kami katakan, alangkah baiknya bila kami tetap duduk di sini menunggu shalat isya bersamamu.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Kalian benar.’ Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepala ke langit lalu berkata, ‘Bintang-gemintang itu adalah para penjaga langit, apabila bintang itu lenyap maka terjadilah pada langit itu apa yang telah dijanjikan, aku adalah penjaga para sahabatku, bila aku tiada maka akan menimpa mereka apa yang telah dijanjikan, dan para sahabatku adalah para penjaga umatku, apabila para sahabatku telah tiada maka akan menimpa umatku apa yang telah dijanjikan.’”(HR. Muslim 7:183).
Al-Imam An-Nawawi mengatakan, “Makna hadis di atas adalah selama bintang itu masih ada maka langit pun akan tetap ada, apabila bintang-bintang itu runtuh dan bertebaran pada hari kiamat kelak maka langit pun akan melemah dan akan terbelah dan lenyap. Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aku adalah penjaga para sahabatku, bila aku tiada maka akan menimpa mereka apa yang telah dijanjikan’, yaitu akan terjadi fitnah, pertempuran, perselisihan, dan pemurtadan. Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Para sahabatku adalah para penjaga umatku, apabila para sahabatku telah tiada maka akan menimpa umatku apa yang telah dijanjikan’, maknanya akan terjadi kebid’ahan dan perkara-perkara baru dalam agama dan juga fitnah…” (Syarh Shahih Muslim, 16:83).
By : Solehudin
Langganan:
Postingan (Atom)
Entri Populer
-
Sepuluh nama Allah swt. dalam Asmaul Husna Perlu disikapi positif dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. apabila seseorang berha...
-
Islam mengajarkan nilai-nilai yang menghantarkan manusia kepada bahagia (sya’adah) dunia akhirat. Tidak ada sesuatu yang baik untuk kehidu...
-
Pada akhir perjalanan hidupnya, Abu Bakar bertanya kepada petugas Baitul Mal tentang brapa jumlah yang ia ambil sebagai uang tunjangan....
-
Bulan Suci Ramadhan telah datang! Inilah bulan istimewa, bulan seribu bulan, bulan penuh rahmat dan barokah, bulan keampunan yang ditunggu ...
-
Barang siapa yang memperhatikan kepentingan saudaranya, maka Alah akan memperhatikan kepentingannya. Barangsiapa yang melapangkan suatu...
-
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa apabila Allah swt. menghendaki seorang mukmin dicabut nyawanya, akan datanglah malaikat maut ( ...
-
Pada awalnya, orang sembunyi-sembunyi untuk masuk islam. apabila orang masuk islam secara terbuka, hampir pasti hanya akan mengundang...
-
39. Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang ...
-
Diantara sekian banyak sahabat yang patut kita jadikan tauladan adalah Ali bin Abi Thalib R.A (disingkat Ali). Beliau memiliki tempat yang...
-
Suatu hari, Rasulullah saw. sedang melaksanakan ibadah solat sunah di rumah. Tiba-tiba datang cucunya, Hasan bin Ali, yang masih kecil....
Counter
Daftar Pertanyaan
Total Tayangan Halaman
Daftar Posting
solehudin. Diberdayakan oleh Blogger.